Menciptakan Insan Statistik yang Kompeten dan Profesional Ala Seven Habits

Judul di atas adalah sebagian statement dari Misi BPS yang kedua. Meskipun sesungguhnya ada tiga core values BPS yaitu Profesional, Integritas dan Amanah namun nilai inti yang pertamalah yang dicantumkan di dalam misi BPS yang kedua. Nilai inti Profesional merupakan modal dasar yang harus dimiliki oleh setiap insan statistik dalam melaksanakan profesi atau tugasnya. Nilai inti ini terdiri dari lima unsur yaitu kompeten, efektif, efisien, inovatif, dan sistemik. Dengan demikian, sekilas bahwa misi kedua BPS yaitu “menciptakan insan statistik yang kompeten dan profesional didukung oleh pemanfaatan teknologi informasi mutakhir untuk kemajuan perstatistikan Indonesia,” mengandung tujuan akhir dari pengembangan sumberdaya manusia di BPS.

Postingan kali ini, penulis mencoba mengaitkan makna Profesional yang dilihat dari unsur Efektif. Secara harfiah, kata efektif berarti mampu memberikan hasil yang maksimal dengan memanfaatkan sumberdaya secara efisien. Pertanyaannya adalah bagaiman caranya agar setiap insan statistik mampu memberikan hasil yang maksimal?

Merujuk pada gagasan Covey (1989) tentang 7 kebiasaan manusia paling efektif di dunia maka dibutuhkan transformasi diri dari sifat ketergantungan menuju pada kemandirian pribadi hingga tercapai keunggulan organisasi. Ringkas kata, 7 kebiasaan ini terbagi dalam tiga layer. Pertama, pengembangan diri, kedua, kemampuan kolaborasi, ketiga, never stop learning.

Saat pertama kali Anda, sebagai Statistisi, diterima bekerja di sebuah lembaga/badan, maka Anda harus mengasah tiga kebiasaan layer pertama yaitu be proactive, first think first, and begin from the end. Atasan Anda dan teman-teman sejawat Anda akan mudah menerima kehadiran Anda pertama kali apabila Anda menunjukkan betapa proaktifnya Anda. Anda selalu hadir saat dibutuhkan dan menjadi solusi atas berbagi persoalan. Jika tidak, minimal Anda tidak menjadi sumber masalah. Anda selalu bekerja atas skala prioritas, menyelesaikan pekerjaan untuk pekerjaan yang memang harus didahulukan karena sifatnya penting dan mendesak. Anda pun mulai bekerja setelah jelas bagaimana bentuk atau output akhir dari pekerjaan yang sedang Anda selesaikan. Inilah tiga kebiasaan pertama yang menjadikan Anda bekerja secara efektif, jadikan diri Anda yang proaktif bukan reaktif, bekerja dengan skala prioritas, dan memulai pekerjaan dari mengidentifikasi apa wujud akhir dari output yang akan diselesaikan.

Kebiasaan berikutnya tidak kalah penting. Anda tidak cukup hanya hebat seorang diri tanpa bisa berkolaborasi dengan pekerja lain atau unit kerja lain. Untuk bisa berkolaborasi dengan hebat, Anda membutuhkan tiga kebiasaan berikutnya yaitu: seek first to understand then to be understood, think win-win, dan synergize.

Adalah lumrah jika ingin dipahami oleh orang lain. Yang menjadi masalah adalah, kita seringkali menuntut orang lain untuk memahami kita tanpa didahului oleh upaya kita untuk memahami orang lain. Sering kita lihat perselisihan terjadi hanya karena kita gagal paham bukan? Nah, Covey mengajarkan kepada kita untuk berupaya memahami lebih dahulu orang lain agar orang lain memahami kita.

Dalam berorganisasi, kita tidak mungkin bekerja seorang diri. Kita butuh kehadiran orang lain. Kemampuan berpikir win-win solution harus dibiasakan. Hindari silo, ingin menang sendiri, pokoknya harus Saya yang menang dan sikap negatif lain. Ingat, di dalam berdiskusi kita sedang mencari cara bersama yang disepakati bukan cara seseorang yang dipaksakan.

Buah dari kebiasaan berusaha memahami untuk dipahami dan berfikir win-win adalah kemampuan bersinergi. Mudahnya, sinergi itu diumpamakan seperti bagaimana menjadikan 1 + 1 bukan hanya 2 tapi bisa 4, 8, 16, dst. Artinya, sinergi Anda dan rekan kerja Anda, atau unit kerja Anda dan unit kerja lain menghasilkan output yang lebih besar. Indikasinya sederhana, capaian prestasi unit-unit kerja di organisasi Anda akan tumbuh seimbang dan tidak jomplang.

Terakhir, Anda butuh memperbarui diri. Caranya, belajar dan terus belajar. Berlatih dan terus berlatih. Never Stop Learning kata Pak Kecuk (Kepala BPS RI). Dengan terus mengasah kemampuan diri maka pertambahan usia akan diikuti dengan pertambahan kapasitas diri.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca juga penulis. Aamiin.

4 Comments

  1. Perkenalkan pak saya Marinda dari univ telkom, saya sedang mengerjakan skripsi mengenaik Robust PCA jika bapak berkenan apakah saya boeh bertanya mengenai Robust PCA dan jika berkenan untuk memberikan informasi kepada saya, untuk membantu penyelesaian skripsi saya (marindaendi@gmail.com). Mohon bantuannya pak, Terima kasih.

  2. Permisi pak saya marinda dari Telkom University, saya sedang mengerjakan tugas akhir (skripsi) saya mengenai Robust PCA, tetapi saya sudah sangat bingung, jika bapak berkenan apakah saya bisa bertanya mengenai Robust PCA melalui e-mail ?. Saya mohon bantuannya pak, terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s